aat menjual sahamnya, dalam kamus bursa, ada dua kemungkinan yang bakal dihadapi kalangan investor yaitu take profit atau cut loss.
Take profit, seperti dikuti dari buku sekolah pasar modal Bursa Efek Indonesia, adalah tindakan melakukan penjualan saham yang dimiliki atau yang telah dibeli, setelah mencapai level harga atau target yang direncanakan atau diinginkan.
Menentukan posisi mengambil keuntungan biasanya tergantung apakah Anda seorang trader ataukah investor, karena berkaitan dengan jangka waktunya. Seorang trader bisa saja masuk/beli saham pagi, dan menjualnya sore sebelum penutupan bursa, sehingga target profitnya biasanya lebih rendah daripada investor.
Saya tidak dalam posisi untuk memberikan advice ataupun rekomendasi tentang apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang orang yang sudah kadung nyangkut tersebut. Dan bukan hak saya juga untuk turut campur terhadap keputusan yang sudah ataupun yang akan mereka ambil. Bagi yang memang anti cutloss ya silahkan, bagi yang “terpaksa” menjadi investor karena saham yang dibelinya sudah turun dalam dan dia nyangkut karena awalnya tidak berani cutloss ya silahkan. Prinsip saya, your money, your responsibility, your decision. Yang merasakan dampak finansial dan psikologis dari keputusan trading anda adalah anda sendiri, bukan saya. Maka seharusnya keputusan itu juga datang dari diri anda sendiri, bukan atas rekomendasi orang lain.
Saya ingin berbagi sudut pandang saja, berbagi beberapa hal yang mungkin bisa menjadi pertimbangan anda dalam mengelola portfolio trading anda.
- Salah Membeli Saham
Siapapun pasti pernah melakukan analisa, sehingga menyebabkan membeli saham yang tidak sesuai kebutuhan. Jika sudah demikian tidak ada salahnya mengambil tindakan jual. Kalau sudah salah membeli lebih baik sedini mungkin dijual untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Tindakan seperti ini tergolong wajar, karena termasuk bagian
- Situasi yang Memaksa Harga Saham Turun
Kondisi pasar modal memang tidak terprediksi. Bisa saja saat ini anda memiliki saham dari perusahaan yang saat analisa teknikal dan fundamental tercatat berpotensi profit. Namun karena satu dan dua hal perusahaan tersebut tidak berjalan sebagai mana mestinya. Ditengah jalan fundamental perusahaan masih memiliki kemungkinan untuk berubah. Dari yang sebelumnya berpotensi memberi profit menjadi tidak memiliki daya kompetitor.